SUDAH sepantasnya seorang calon wakil rakyat memahami kehidupan dan aspirasi rakyatnya. Bukan hanya dengan slogan atau kalimat tebar janji yang terpampang di spanduk atau baliho yang marak bertebaran di sepanjang jalan sampai ke gang-gang sempit, tetapi harus dengan tindakan dan perbuatan yang nyata. Menyambangi dan bersentuhan langsung, serta mendengar keluh kesah rakyat. “Saya menikmati aktivitas baru saya, bertatap muka dengan ratusan orang, menampung cerita duka dan harapan mereka,” ujar Sukur Nababan, Calon Anggota Legislatif DPR RI, dari PDI Perjuangan nomor urut 2, Daerah Pemilihan Kota Bekasi dan Kota Depok.
Saat ini, aktivitas keseharian Sukur berubah drastis. Dalam satu hari, Sukur harus menyediakan waktunya untuk mendatangi 4-6 undangan dari warga Kota Bekasi dan Kota Depok yang ingin bertatap muka dengannya. Keluar rumah pagi hari, pulang larut malam adalah bentuk pengabdian yang harus dilakoni oleh Sukur. Dalam perjalanannya keliling Kota Bekasi dan Depok, ia mendapati sebuah kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang hidup dalam kesusahan, terutama dalam mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang layak dan bermutu. “Negara wajib memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis, dan itu yang akan saya perjuangkan,” tutur pria kelahiran Sumatra Utara, 14 Oktober 1968.
Sukur paham betul arti pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Ayahnya seorang guru yang hidupnya dihabiskan mendidik dan mendirikan sekolah bagi masyarakat di Tapanuli, Sumatra Utara. Sukur kecil hidup dan dibesarkan dalam keterbatasan ekonomi.
Masa kecilnya dilalui dengan kerja keras dan perjuangan. Perjalanan masa kecil itulah yang telah menempa Sukur memiliki mental sekuat baja.
“Negara ini bisa berubah lebih baik, jika masyarakatnya cerdas dan sehat,” tutur alumnus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara tersebut.
Bagi Sukur Nababan, menjadi caleg bukanlah untuk mengejar kepentingan pribadi. Kehidupan ekonominya sudah mapan yang bisa menjadi benteng dari godaan korupsi. Sukur hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi kepada rakyat. “Saya ingin berbuat lebih banyak lagi, itulah yang membuat saya terjun ke dunia politik,” tambahnya.
Rakyat seharusnya difasilitasi dengan kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Menurut Sukur, semua persoalan terletak pada mentalitas rakyat dan sistem pengelolaan negara yang menerapkan sistem dagang. Sukur memahami betul bahwa pemerintahan dan DPR ke depan harus menjadi lembaga yang selaras dalam memikirkan dan memberikan solusi bagi kehidupan rakyatnya. Sukur sadar bahwa melakukan perubahan kehidupan rakyat akan sangat sulit jika dirinya berada di luar sistem kekuasaan. Untuk itulah dia melangkah ke Senayan, untuk menjadi penyambung lidah rakyat dan pembela kaum lemah dan terpinggirkan melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
“Saat ini saya bukan siapa-siapa, sehingga suara saya tidak akan terdengar. Tetapi jika saya terpilih nanti, saya bisa berteriak lebih kencang untuk menyuarakan aspirasi rakyat,” ujar Sukur bersemangat. (JU-16)***

